Jalan Sudirman dan Segala Kenangannya
Rekomendasi lagu yang cocok untuk menemani kamu membaca cerita ini :)
> Tak Di Tanganku - Juicy Luicy
> Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan - Payung Teduh
--
Matahari telah terbit tinggi, menyebarkan sinar keemasannya di sepanjang Jalan Sudirman, tempat lalu lintas berdengung seperti mesin yang terpelihara dengan baik. Jalanan itu hidup, penuh warna dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh terik siang. Halo-halo kuning dari lampu jalan digantikan oleh terang tajam matahari, memantulkan cahaya dari fasad kaca gedung pencakar langit yang menjulang. Klakson-klakson berbunyi, mobil dan motor saling berseliweran dalam tarian yang kacau, sebuah orkestra tanpa konduktor. Kota ini berdenyut, sebuah jantung yang terlalu sibuk untuk menyadari sakit sepi dari satu jiwa. Namun, di tengah hiruk-pikuk tubuh dan suara, dia bergerak seperti bayangan, menyelinap tak terlihat melalui pembuluh-pembuluh kota.
Sudirman memiliki aroma khas di siang hari—perpaduan antara asap knalpot yang baru, manisnya sate yang dipanggang di pinggir jalan, dan sedikit parfum dari panas siang yang terpantul dari aspal. Aneh bagaimana bahkan bau bisa mengingatkan pada kenangan. Ketika dia melewati pedagang kacang goreng di dekat terowongan, dia tersenyum, mengenang bagaimana dia pernah berada di sana beberapa bulan lalu. Seperti dulu, seperti mereka yang pernah ada.
Dulu mereka tertawa di sini—dia dan pujaan hatinya—hanya dua sosok di antara ribuan orang, berdiri terlalu dekat di bawah lampu jalan yang berdengung di malam hari, wajah mereka tersembunyi dalam bayang. Dia sering menarik tangannya ke warung-warung saat hujan menghampiri, pura-pura mereka sedang dalam petualangan sinematik. Tapi sekarang, dengan matahari yang bersinar tinggi dan kehangatan baru di atas aspal, tidak ada lagi tarikan tangan. Hanya dia, dan dunia, dan desir lembut orang-orang yang bergerak melewatinya.
Dia berhenti sejenak di dekat jembatan penyeberangan, di mana kota terbuka dalam lapisan—orang-orang bergerak di atas, orang-orang bergerak di bawah, masing-masing dengan tujuannya sendiri, masing-masing dalam dunianya sendiri. Jakarta tak pernah berhenti. Mungkin itu yang membuat rasa sakit terasa lebih tajam: bagaimana dunia terus berputar, tak menyadari kekosongan yang ditinggalkan oleh satu kehilangan.
Sebuah tanda neon berkedip malas di seberang jalan—Warung Ketoprak. Itu adalah tempat mereka. Kencan ketiga mereka. Dia ingat bagaimana mereka bertengkar tentang siapa yang membuat Ketoprak terbaik dan bagaimana perempuan itu tertawa terbahak-bahak atas kekerasan hatinya hingga kekasih hatinya memakan kerupuk yang jatuh. Sekarang, meja yang sama diisi oleh orang-orang asing, tertawa dengan cara yang tidak mengenal namanya. Hidup sudah bergerak maju. Saatnya dia juga begitu.
Angin hangat menyentuh wajahnya, mengangkat helai rambutnya seperti bisikan lembut. Dia menutup mata sejenak, membiarkan kota berbicara kepadanya—bukan dalam kata-kata, tetapi dalam sensasi. Deru motor yang melaju, aroma menggoda dari ayam bakar yang tercium dari kios makanan, ketukan langkah kaki yang tergesa-gesa di trotoar, tawa bebas para remaja dalam seragam mereka. Hidup. Itu berdenyut di sekelilingnya, dan dia masih menjadi bagiannya, meskipun hatinya belum sepenuhnya mengejarnya.
"Aku merindukanmu," bisiknya—bukan dengan suara keras, tetapi dalam pikirannya. Itu bukan rasa rindu yang putus asa. Tidak, itu lebih tenang sekarang. Sebuah rasa sakit yang lembut, usang dan familiar, seperti baju lama yang masih pas, tetapi tidak lagi membawa berat yang sama. Nyaman, tetapi tidak lagi diperlukan.
Dia menyeberang ke sisi jalan yang lain, langkahnya lebih pasti sekarang. Garis langit menjulang di depannya, berkilau dan metalik, meraih ke langit yang luas. Gedung pencakar langit itu berkilau seperti potongan-potongan kemungkinan. Dulu, dia memandangnya dan memikirkan impian yang mereka bagi. Sekarang, dia memandangnya dan hanya melihat pantulan dirinya.
Bukan berarti dia berhenti mencintainya. Tidak, beberapa cinta tetap terukir di jiwa seperti grafiti di dinding batu tua—tidak sempurna, memudar, tetapi tak terbantahkan. Tetapi setelah berakhirnya hubungan mereka, dia belajar sesuatu: cinta tidak selalu berarti selamanya. Terkadang, cinta adalah sebuah momen. Terkadang, itu adalah sebuah musim. Dan terkadang, itu adalah sebuah jalan di Jakarta di mana kenangan tertinggal, tetapi kamu tidak perlu lagi tinggal di sana.
Di sudut shelter bus tempat mereka pernah ketinggalan TransJakarta terakhir bersama, dia berhenti sejenak. Jarinya menyentuh tiang logam yang dingin, menenangkannya. Sepasang kekasih lewat, tangan mereka saling terjalin. Dia tidak terkejut.
Angin berbalik lagi, membawa aroma baru—sebuah sentuhan melati dari pedagang jalanan yang lewat. Favoritnya. Dia tersenyum.
Jalan ini akan selalu menyimpan potongan-potongan dirinya—dari mereka. Tetapi dia tidak akan terjebak dalam labirin ini. Dia akan melangkah maju, bukan sebagai setengah dari pasangan yang rusak, tetapi sebagai wanita yang dibentuk kembali oleh kekuatannya sendiri.
Saat dia melangkah ke dalam langkah perlahan orang-orang yang bergerak, kota menelannya sepenuhnya, bukan dalam pelupaan, tetapi dalam pengampunan. Untuk dia. Untuk dirinya sendiri. Untuk semua yang seharusnya terjadi, tetapi tidak pernah menemukan akhirnya.
Dan begitu saja, Sudirman memudar di belakangnya—masih hidup, masih berdengung—tetapi hanya membawa gema dari sebuah cinta yang tak lagi perlu ia bawa.


.jpeg)

Comments
Post a Comment